Jumat, 30 Oktober 2020

Pentingnya Good Agricultural Practices (GAP) Pada Sayuran Salada

 


Salada (Lactuca sativa) merupakan tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Salada dapat di jadikan lalapan atau bahan campuran burger, salad, dan gado-gado. Salada tak hanya memiliki rasa yang menyegarkan, ternyata memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin A,vitamin K, zat besi, kalium, kalsium, serat, dan asam folat.

Salah satu lahan usaha sayuran salada terletak di Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Luas lahan budidaya salada yakni 0,4 ha, dengan ketinggian         796 m.dpl. Komoditas salada yang dibudidayakan di sini yakni jenis salada hijau keriting.

Kegiatan  pembibitan diawali dengan pesemaian. Tujuan dilakukan pesemaian ini yaitu untuk memperkuat dan memperkokoh biibit tanaman sayuran sebelum ditanam dilahan dan dapat menghitung kebutuhan  bibit  dalam setiap bedengan yang dibutuhkan. Wadah pesemaian  yang digunakan berupa tray pesemaian.

Tray pesemaian yang digunakan memiliki 2 ukuran yaitu dengan kapasitas 50  kotak dan 121 kotak. Media yang dipakai dalam pesemaian yakni bokashi dan arang sekam. Benih di sebar merata dalam setiap 1 kotak berisi 2 sampai 3 benih. Benih yang telah disebar merata pada media tanam  lalu ditutup menggunakan arang sekam dan disiram terlebih dahulu sebelum disusun pada rak pesemaian.

Kegiatan pemeliharaan selada keriting hijau yaitu dengan menyiram sebanyak 2 kali sehari yakni pada pagi dan sore hari. Pemberian pupuk dan pestisida serta penyiangan gulma. Aplikasi pestisda dilakukan apabila pada salada terserang Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). OPT yang bisa menyerang pada tanaman salada yakni Penyakit busuk lunak  (Soft Rot) yang disebabkan oleh bakteri  Erwinia carotovora.

Panen dilakukan setelah salada berumur 30-35 Hari Setelah Tanam (HST). Dengan luas 0,4 ha, panen dilakukan 2 hari sekali dengan total produktivitas dalam satu periode tanam adalah 2 ton, dengan harga Rp.5000,- per kilogram.

Kegiatan pascapanen yang dilakukan yaitu sortasi dan grading. Kegiatan sortasi yaitu membuang selada yang terdapat bercak hitam (Soft Rot). Kegiatan sortasi ini dilakukan agar selada yang akan dipasarkan mempunyai kualitas yang baik tanpa adanya bercak hitam (Soft Rot). Kegiatan Grading yaitu mengelompokan salada yang mempunyai grade A (Super) dan grade B (biasa). Selada grade A (super) di pack menggunakan kotak container. Segmen utama untuk salada keriting hijau berkualitas super yaitu untuk dikirim ke restoran. Sedangkan selada grade B (biasa) di pack menggunakan plastik dan dikirim ke pasar tradisional.

Pelaku lahan usaha salada berinisiatif untuk melakukan registrasi lahan usaha agar mendapatkan Surat Keterangan Registrasi agar produk salada yang dihasilkan dapat menembus pasar yang lebih baik yakni Supermarket dan  salah satu tujuannya untuk Airline Food atau sajian hidangan di maskapai penerbangan Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa salada merupakan salah satu sayuran daun yang rentan terhadap residu pestisida. Pengunaan pestisida di kalangan petani sayuran seolah menjadi wajib, baik ada Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) atau tidak, karena ketakutan mereka akan resiko gagal panen. Pola pikir (mindset) petani sayuran terutama salada untuk mengurangi pemakaian pestisida merupakan salah satu tantangan bagi petugas Penyuluh Pertanian dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk memberikan penjelasan mengenai pentingnya  Good Agricultural Practices (GAP) yang di dalamnya terdapat ruang lingkup tentang perlindungan tanaman.



Fakta di lapangan petani belum banyak memahami cara-cara bertani yang baik dan benar. Masih sedikit yang mengerti apa dan bagaimana Good Agricultural Practices, masih ada petani yang melakukan Pengendalian hama tidak mengikuti cara yang benar, penyimpanan pestisida dan pembuangan limbah dan kemasan bahan kimia yang tidak sesuai, serta penanganan pasca panen yang tidak higienis.

Kenapa perlu menerapkan GAP, yakni untuk menjadikan usaha tani menjadi inovatif dan kompetitif. GAP juga dapat memperbaiki hasil panen dan mutu produk. Implementasi GAP akan menuju ke pertanian yang ramah lingkungan.

Manfaat dari penerapan Good Agriculural Practices dari segi ekonomi adalah meningkatkan peluang akses pasar, serta meningkatkan daya saing produk. Dengan pelaku usaha sayuran terutama salada mendapatkan sertifikasi GAP maka akan memperluas penjualan pada rantai supermarket, hotel, restoran, rumah sakit, food service, airline food dan banyak outlet lainnya.