Selasa, 12 Juli 2022

Membuat Pakan Komplit (Complete Feed) Untuk Ternak Kambing Perah

 

Pengembangan kambing akan mengalami permasalahan mengenai jaminan ketersediaan pakan, utamanya pada musim kemarau. Pemanfaatan sumber daya lokal menjadi dasar utama.

Sumber daya lokal menjadi dasar utama. Sumber daya lokal yang digunakan masih menyimpan plasma nutfah yang berpotensi untuk menanggulangi kendala di atas dan menjadi andalan masa depan yang berjangka panjang. Sumber daya lokal potensial yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia adalah pemanfaatan hasil sampingan budidaya tanaman pangan dan perkebunan. Bahan-bahan tersebut masih mudah didapat dalam jumlah banyak pada suatu lokasi.

Bahan dan Alat

Berdasarkan makanannya kambing tergolong kelompok herbivora (pemakan tumbuhan). Kebutuhan zat-zat makanan bagi kambing dikelompokkan menjadi dua, yaitu bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein.

Bahan pakan sumber energi umumnya terdiri dari biji-bijian dan sisa serealia, umbi-umbian dan hijauan.

Bahan pakan sumber protein bisa juga berupa biji-bijian dan sisa serealia, umbi-umbian dan hijauan. Selain itu, bisa juga berupa biji-bijian seperti tepung bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap, biji kapas, atau tepung yang berasal dari hewani.

    

Secara umum kambing membutuhkan hijauan segar sebanyak 10 % dari berat badanya misal berat kambing 25 kg, maka kambing membutuhkan 2,5 kg hijauan setiap hari.


     Bahan-bahan yang digunakan, yaitu :

1.      Hijauan Makanan Ternak (HMT)                                           100 kg

2.      Onggok Kering                                                                          5 kg

3.      Bekatul                                                                                       5 kg

4.      Starbio                                                                                    300  gr

5.      Molases/Tetes Tebu                                                                400  gr

6.      Garam                                                                                     400  gr

7.      Air                                                                                              5 Ltr

Alat-alat yang digunakan, yaitu :

-          Mesin Chopper

-          Timbangan

-          Ember

-          Drum Plastik

Cara Pembuatan Pakan Komplit (Complete Feed)

 

-          Cacah HMT dengan mesin pencacah (chopper)

-          Larutkan starbio, molases dan garam dalam 5 Liter aiir dan direbus sampai mendidih

-          Campurkan cacahan HMT dan onggok serta bekatul dan basahi dengan larutan starbio, molases dan garam diaduk sampai merata.

-          Masukan campuran tersebut secara bertahap ke dalam drum plastik, lalu tutup rapat-rapat agar udara luar tidak masuk ke dalam drum, tujuannya agar proses fermentasi berjalan dengan baik.

-          Biarkan selama 3 minggu hingga campuran matang

-          Drum – drum yang telah terisi bahan pakan komplit harus disimpan di tempat yang terlindungi dari sinar matahari langsung.

Bahan pakan ini dapat bertahan selama 2 (dua) tahun.\

 

Kesimpulan dan Saran :

 

            Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.      Complete Feed akan membantu pemecahan masalah penyediaan pakan bermutu dengan harga terjangkau.

2.      Mudah dalam pemberiaannya dan tahan lebih lama jika disimpan karena dalam bentuk awetan.

3.      Complete Feed dapat meningkatkan jumlah ternak kambing perah yang dipelihara tanpa harus susah payah mengarit (merumput) dan waktu bisa digunakan untuk yang lain yang lebih produktif.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, U. 2008. Pengaruh Penggunaan Onggok dan Isi Rumen Sapi dalam Pakan Komplit Tehadap Penampilan Kambing Peranakan Etawah. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Islam, Malang.

Rangkuti, J. H. 2011. Produksi dan Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah (PE) pada Kondisi Tatalaksana yang Berbeda. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Kamis, 02 Juni 2022

BUDIDAYA TANAMAN JAMUR TIRAM

 



I.  SYARAT PERTUMBUHAN

 1.1.      Iklim a)   Secara alami, jamur tiram Pleurotus ditemukan di hutan dibawah pohon berdaun lebar atau di bawah tanaman berkayu. Jamur tiram tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak dan remang-remang, di tempat terlindung miselium jamur akan tumbuh lebih cepat daripada di tempat yang terang dengan cahaya matahari berlimpah.b)   Kelembaban ruangan optimal 90-96% yang harus dipertahankan dengan menyemprotkan air secara teratur.c)   Suhu udara untuk pertumbuhan miselia adalah 23-28 derajat C dan untuk pertumbuhan tubuh buah adalah 13-15 derajat C. 

1.2.      Media Tanam Secara tradisional, di Jepang, bibit ditanam di dalam lubang atau garisan di kayu kering. Pengeringan dilakukan dengan tenaga sinar matahari atau listrik. Dalam budidaya modern, media tumbuh berupa kayu tiruan (log) yang dibuat dalam bentuk silinder. Komposisi media ini berupa sumber kayu (gergaji kayu, ampas tebu), sumber gula (tepung-tepungan), kapur, pupuk P dan air.  

1.3.      Ketinggian Tempat Kondisi di atas lebih mudah dicapai di daerah dataran tinggi sekitar 700-800 m dpl. Kemungkinan budidaya jamur di dataran rendah tidaklah mustahil asalkan iklim ruang penyimpanan dapat diatur dan disesuaikan dengan keperluan jamur.   

II.  PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

2.1.      Pembibitan 

2.1.1.    Sumber Bibit 

a)   Sumber alami Dipakai untuk media tradisional. Batang kayu yang telah ditumbuhi jamur dilembabkan, kemudian dirajang sepanjang 5-10 cm dan lebar 1-2 cm. Potongan disebarkan ke batang kayu lain yang dijadikan media tumbuh.  

b)   SporaSpora terbentuk di tudung/payung bagian bawah. Tudung/payung yang berumur 3 hari dihancurkan di dalam air bersih. Cara penggunaan cairan ini ada 2 macam: (1) cairan ini dapat digunakan langsung sebagai bibit; (2) cairan disiramkan ke media yang tersusun dari serbuk gergaji dan kukusan jagung/padi. Setelah diinapkan beberapa hari, miselium akan tumbuh menyelimuti media dan siap digunakan. 

c)   Biakan murni Cara ini menghasilkan bibit berkualitas.

1.   Siapkan media Potato Dextrose Agar (PDA) yang terdiri atas ekstrakt kentang 1 liter (1 kg kentang digodog dengan 1 liter air, lalu disaring), gula dekstrosa 20 gram, ekstrak ragi 5 gram (dapat diganti dengan 400 ml air ragi tetapi air kentang jadi 600 ml) dan agar-agar batang 20%. Media lain yang bahan mudah didapat terdiri atas 1/4 kg kentang, 1/4 kg bawang bombay, 1/4 kg aci, 1 sendok makan gips dan 3 bungkus agar-agar kecil. Panaskan campuran media tersebut untuk melarutkan agar-agar. Masukkan 15 cc media ke dalam tabung reaksi 25 cc kemudian disterilkan dalam autoklaf pada temperatur 121 derajat C, tekanan 1,5 selama 15 menit atau dengan dikukus pada temperatur 100 derajat C  selama 8 jam.Biarkan media PDA sampai hangat tetapi masih cair. Buka sedikit cawan petri bagian atas, masukkan segera media ke dalam cawan petri steril secara aseptik. Tutup cawan petri dengan cepat. Setelah agar membeku, balikkan posisi cawan petri. Media ini disebut dengan media lempeng agar.

2.   Ambil tubuh buah berumur 3 hari (diameter sekitar 10 cm) yang sehat, mulus dan bagian sisinya tidak berkerut. Lepaskan stipe/bilah di bagian bawah tubuh buah. Ambil potongan bilah dengan pinset steril dan letakkan di tengah media lempeng agar yang telah disiapkan. Inkubasikan media di dalam inkubator pada temperatur 28 derajat C. Pada hari ke 2, miselium mulai tumbuh dan pada hari ke 5 seluruh permukaan media tertutupi miselium. Biakan murni ini disebut dengan bibit F1.

3.   Pengerjaan seluruh proses di atas harus aseptik/bersih untuk menghindari tumbuhnya jamur yang tidak dikehendaki. Sebelum digunakan alat-alat berupa pisau atau pinset harus dibakar di atas api. Sebaiknya pengerjaan dilakukan di dalam laminar flow atau transfer box yang dijamin kebersihannya.

4.   Pembiakan murni jamur tiram ini sudah dibuat di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Unpad, Jurusan Biologi ITB dan PAU Mikrobiologi ITB. Bibit jamur murni bisa disimpan sampai 6 bulan pada temperatur sekitar 4 derajat C.  

2.1.2.    Pembuatan Bibit Jamur F2 Bahan-bahan untuk media bibit F2 adalah:

 

a)      Jagung tumbuk atau padi bergabah = 60%.

b)      Serbuk gergaji = 38%.

c)      Kapur = 0,5-1%.

d)      Gips = 0,1-1%. 

Sebelum dicampurkan, jagung tumbuk/padi direndam semalam dan dikukus 2 jam sampai mekar. Media dimasukkan ke dalam toples bekas jam.Satu lempeng agar bibit F1 dibagi menjadi delapan bagian. 1 bagian dimasukkan ke dalam media di atas dengan miselium menempel pada media. Setelah 2-4 minggu seluruh media ditumbuhi miselium dan siap ditanam ke log. 2.1.3.    Pembuatan Bibit Jamur F3 Walaupun bibit F2 lebih baik daripada F3, banyak petani jamur yang menggunakan bibit F3 untuk ditanamkan ke dalam log. Media untuk bibit F3 berupa log dengan komposisi media dan cara pembuatan yang sama dengan log produksi, hanya ukuran plastiknya sekitar 1 kg. Bibit F3 dibuat dengan menambahkan 2 sendok makan bibit F2 ke bagian atas log, lalu diinkubasikan selama 1 bulan sampai miselium memenuhi seluruh permukaan log. Bibit F3 siap ditanamkan ke log produksi. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan steril di dalam laminar flow atau transfer box.  

2.2.      Pengolahan Media Tanam

2.2.1.    Persiapan Untuk 80 log diperlukan bahan-bahan seperti di bawah ini:

a)   Serbuk gergaji atau ampas tebu halus=100 kg

b)   Tepung jagung=10 kg

c)   Dedak halus=10 kg

d)   Pupuk SP36=0,5 kg

e)   Gips=0,5 kg

f)    Air=50-60% 

Bahan-bahan kecuali air dicampur merata, tambahkan air sampai media dapat dikepal.  

2.2.2.    Pembuatan Log 

Media dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas kapasitas 1,5-2 kg sampai Media harus dipadatkan agar terbentuk log yang baik. Ikat mulut plastik dengan karet tahan panas dan sterilkan.  

2.2.3.    Sterilisasi Log 

Sterilisasi perlu dilakukan agar media bebas dari mikroba lainnya. Terdapat dua cara sterilisasi yaitu:

a)   Sterilisasi pada temperatur 100 derajat C selama 8 jam dengan cara mengukus. Biasanya digunakan drum kapasitas 50 log yang dipanaskan dengan kompor minyak tanah.

b)   Sterilisasi pada temperatur 121 derajat C selama 15 menit dengan menggunakan otoklaf atau dandang bertekanan uap.  

2.3.      Teknik Penanaman 

2.3.1.    Penanaman Bibit 

Buka bagian atas log yang telah disterilkan. Hamparkan 1-2 sendok makan bibit jamur F3 atau F2. Gunakan sendok yang telah dipanaskan di atas api. Rapatkan kembali plastik bagian atas. Masukkan cincin dari bambu berdiameter 3 cm dan tinggi 1 cm ke dalam plastik yang dirapatkan tersebut. Isi lubang yang terbentuk dengan kapas. Tutup kapas beserta cincin dengan kertas koran dan ikat. 

2.3.2.    Penyimpanan Log 

Jika kita akan menyimpan log di dalam bangunan  maka masa tanam jamur tiram tidak diatur oleh kondisi iklim dan dapat dilakukan setiap saat.  Log yang sudah ditanami bibit harus disimpan di tempat yang menunjang pertumbuhan  miselium dan tubuh buah. Bangunan untuk menyimpan log dapat dibuat permanen untuk budidaya jamur skala besar atau di dalam bangunan semi permanen. Tempat pemeliharaan jamur dibuat dengan ukuran 10 x 12 m2 yang di dalamnya terdapat 8 buah petak pemeliharaan berukuran 5,7 x 2,15 m2. Jarak antar petak 40-60 cm. Di dalam setiap petak dibuat rak-rak yang tersusun ke atas untuk menyimpan 1.300-1.400 log. Rangka bangunan dapat dibuat dari besi, kayu atau bambu.  Kondisi lingkungan yang harus diperhatikan dalam membuat bangunan penyimpanan adalah:a)   Temperatur untuk pembentukan miselium adalah 23-28 derajat Cb)   Temperatur untuk pembentukan tubuh buah adalah 13-15 derajat Cc)   Kelembaban udara 90-96%d)   Kadar air log 35-45%e)   Udara di dalam tidak tercemari asap/gas. Log disimpan di atas rak dengan posisi tegak atau miring. Jarak penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga tubuh buah yang tumbuh dari satu log tidak bertumpang tindih dengan tubuh buah yang lain.  

2.4.      Pemeliharaan Tanaman 

2.4.1.    Pemeliharaan Log 

Log yang akan membentuk miselium dan tubuh buah harus dipelihara. Pemeliharaan berhubungan dengan menjaga lingkungan agar tetap optimum

a)   Kandungan air yang baik 35-45%. Kekurangan air menyebabkan miselium tidak membentuk tubuh buah karena kekeringan dan kelebihan air menyebabkan tumbuhnya jenis jamur lain yang tidak diinginkan.

b)   Cahaya. Perkembangan miselium dan tubuh buah akan terhambat dengan adanya cahaya langsung. Tempat penyimpanan harus tetap teduh dan sinar matahari tidak masuk secara langsung ke dalam ruangan. 

 

2.4.2.    Pembentukan Miselium dan Tubuh Buah 

a)   Penumbuhan Miselium

Miselium akan tumbuh memenuhi permukaan log setelah penyimpanan selama kurang lebih 1 bulan. Selama jangka waktu tersebut, temperatur dan kelembaban harus optimal. Pengaturan temperatur dan kelembaban dapat dilakukan dengan cara:

1.   Menyemprotkan air dengan sprayer ke dinding-dinding bangunan penyimpanan dan ke ruang di antara jajaran log.

2.   Menyemprotkan air dengan sprinkel bernozel halus. 

 

b)   Pembentukan tubuh buah pertama

Setelah miselium tumbuh sempurna, lepaskan cincin log dan buka plastik bagian atas sehingga seluruh permukaan atas log kontak dengan udara. Pada waktu ini diperlukan raising yaitu pengaturan lingkungan agar tubuh buah tumbuh. Raising dilakukan dengan:

1.   Menurunkan temperatur ruang menjadi 13-15 derajat C dengan menggunakan pengatur temperatur (Air Conditioning) atau menyemprotkan air dengan nozel halus secara intensif.

2.   Menurunkan temperatur dan sekaligus menyemprotkan bahan yang mengandung hormon pertumbuhan ke permukaan log yang kontak dengan udara. Air kelapa atau ekstrakt toge dapat dipakai sebagai sumber hormon tsb. Dengan cara ini pertumbuhan tubuh buah akan mencapai dua kali lipat dibandingkan cara pertama. Tubuh buah pertama terbentuk setelah 3-5 hari pembukaan.  

 

c)   Pembentukan tubuh buah selanjutnya

Setelah tubuh buah pertama dipanen, turunkan bukaan plastik sampai ½ bagian log. Kadang-kadang calon bakal buah sudah tumbuh di bawah plastik yang belum terbuka. Bagian plastik tersebut harus dilubangi untuk memberi kesempatan tubuh buah keluar dan tumbuh.  Pembukaan log sebaiknya tidak dilakukan sekaligus, terutama pada budidaya skala besar. Jarak pembukaan satu kelompok log dengan kelompok lainnya ditentukan sedemikian rupa sehingga setiap hari ada tubuh buah yang dipanen. Pembukaan log yang bertahap akan menjamin kelangsungan produksi.  

2.5.      Hama dan Penyakit 

2.5.1.    Hama Hama yang banyak terdapat di tempat budidaya jamur adalah serangga baik berupa kumbang atau kutu. Pencegahan dengan sanitasi lingkungan atau, alternatif  terakhir, penyemprotan insektisida. Perlu diingat bahwa residu insektisida akan menempel di tubuh buah sehingga jamur yang dipanen harus dicuci bersih di air mengalir. Pencucian dapat menyebabkan penurunan kualitas jamur kalau kelebihan air tidak langsung dihilangkan dengan cara ditiriskan. 

2.5.2.    Penyakit Penyebab timbulnya penyakit adalah sterilisasi yang tidak sempurna, bibit yang tidak murni, alat yang kurang bersih dan kandungan air media terlalu tinggi. Penyakit berupa tumbuhnya jamur lain seperti Mucor, Rhiozopus, Penicillium dan Aspergillus pada log. Serangan jamur-jamur tersebut dicirikan dengan timbulnya miselium yang berwarna hitam, kuning atau putih dan timbulnya lendir. Pertumbuhan jamur tiram menjadi terhambat atau tidak tumbuh sama sekali. Serangan dapat terjadi di log yang belum atau sudah dibuka.  Pengendalian dilakukan dengan memperbaiki kultur teknis dan meningkatkan kebersihan lingkungan pada saat pembuatan media dan bibit serta lingkungan bangunan penyimpanan.  

2.6.      Panen 

2.6.1.    Ciri dan Umur Panen Jamur tiram Pleurotus adalah jamur yang rasanya enak dan memiliki aroma yang baik jika dipanen pada waktu umur muda. Panen dilakukan setelah tubuh buah mencapai ukuran maksimal pada 2-3 hari setelah tumbuh bakal tubuh buah.  

2.6.2.    Cara Panen Pengambilan jamur harus dilakukan dari pangkal batang karena batang yang tersisa dapat menimbulkan busuk. Potong jamur dengan pisau yang besih dan tajam dan simpan di wadah plastik dengan tumpukan setinggi 15 cm.  

2.6.3.    Periode Panen Panen dilakukan setiap hari atau beberapa hari sekali tergantung dari jarak pembukaan log-log. Dari satu log akan dihasilkan sekitar 0,8-1 kg jamur.  

2.7.      Pascapanen 

2.7.1.    Penyortiran Setelah dipanen, batang tubuh buah dipotong. Pisahkan jamur yang rusak dari jamur yang baik, pisahkan pula jamur sesuai dengan ukurannya.  

2.7.2.    Penyimpanan. Setelah penyortiran, buang kotoran pada jamur tanpa mencucinya. Simpan di dalam wadah bersih dan tempatkan di kamar dengan temperatur 15 derajat C. Jamur dapat tetap segar selama 5 x 24 jam.  Sebelum pengemasan, jamur dapat disemprot dengan larutan natrium bisulfit 0,1-0,2% yang menghambat pembusukan 

2.7.3.    Pengemasan Pengemasan dilakukan dalam: a)   Kantung plastic b)   Kantung plastik yang divakum (udara dikeluarkan) c)   Wadah plastik putih dan ditutup dengan plastik lembaran tipis. 

2.7.4.    Penanganan Lain 

a)   Pengeringan. Jamur direndam dalam air bersih, atau cuci dengan air mengalir lalu diiris tipis atau dibiarkan seperti adanya. Masukkan ke dalam air mendidih sebentar, lalu tiriskan. Keringkan jamur di dalam oven listrik/ minyak tanah.

b)   Penambahan senyawa pengawet. Jamur utuh dibersihkan dari kotoran jika perlu dengan air mengalir. Rendam dalam asam sitrat 0,1% selama 5 menit. Cuci dengan air mengalir. Masukkan ke dalam larutan yang terdiri atas garam dapur (15%), garam sitrat (0,5%), SO2 (1%), kalium bikarbonat (0,1%) dan kalium metabisulfida (<1%) selama 10-15 menit.  Tiriskan kembali. Jamur akan awet selama 2 minggu tanpa pengepakan dan 1 bulan bila langsung dipak cara vakum. 




Senin, 09 Mei 2022

Ayam ARAB

 


Ayam Arab, merupakan keturunan dari Ayam Brakel Kriel-Silver dari Belgia; keberadaannya di Indonesia karena dibawa oleh orang-orang  Indonesia yang datang dari  Saudi Arabia.  Ciri khasnya adalah warna putih mengkilap di sepanjang leher, punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih. 

Dari penampilan tubuhnya, tinggi Ayam Arab dewasa mencapai 35 cm dengan bobot 1,5-2 kg. Kepalanya mempunyai jengger berbentuk tunggal dan bergerigi. Ayam ini berbulu tebal. Ayam Arab betina dewasa tingginya mencapai 25 cm dengan bobot 1,0-1,5 kg. Kepalanya berjengger tipis, bergerigi. Badannya berbulu tebal. Selama usia produktif antara 0,8 - 1,5 tahun, betina arab terus-menerus bertelur, sehingga hampir setiap hari menghasilkan telur.

Masyarakat memelihara Ayam Arab terutama untuk produksi telur, yang mencapai 190-250 butir per tahun dengan berat telur 42,3 gram. Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2% dari total berat telur. Warna kerabang telur sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan coklat. Warna kulit yang kehitaman dengan daging yang lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai pedaging.

Namun potensi genetis ayam Arab akan muncul jika kondisi lingkungannya memungkinkan. Pemeliharaannya bisa dilakukan secara intensif di kandang batery atau  semi intensif, diumbar.  Terutama pakan sangat mempengaruhi produksi telurnya. Beberapa pengalaman pemelihara ayam Arab, bahwa pemberian pakan campuran dedak, jagung dan konsentrat dengan perbandingan 1 : 2 : 3 dapat menghasilkan produksi 70-80% selama 2 tahun. Produktivitas ayam Arab menurun dengan bertambahnya umur ayam.

Ayam Arab termasuk jenis petelur tipe ringan dibawah 1880 gr per ekor.  Konsumsi pakan umumnya maksimal 100 gr/ekor/hari.  Dengan adanya batasan pemberian ransum ini maka sebaiknya penyusunan ransum yang tepat sesuai kebutuhan karena kelebihan ransum dapat menyebabkan ayam menjadi gemuk dan menurunkan produksi telur,    (Wahyu, 1988). 

Ransum yang dikonsumsi oleh unggas harus dapat memenuhi segala kebutuhan unsur-unsur gizi utama dan pra utama bagi unggas, sehingga menghasilkan produksi yang optimal. Produksi yang optimal dikaitkan dengan prinsip ekonomis dan teknis peternakan.  Produksi yang optimal dimana produksi telur dapat memberikan tingkat manfaat semaksimal mungkin kepada peternak. Ransum untuk ayam berproduksi pada komposisi yang baik adalah dengan kandungan protein 17% dan energinya 2850 kkal/kg; akan menghasilkan produksi telur yang baik untuk daerah tropis (Rasyaf, 1995).  Perhitungan kandungan ransum dapat dilakukan secara sederhana dengan membandingkan jumlah komposisi antara pakan sumber protein dan sumber karbohidrat.  Jika ransum yang tersedia hanya dedak dan konsentrat (pabrik) maka komposisi 3 : 1 sudah mendekati kandungan nutrisi (protein dan energi) di atas.

Dalam manajemen pemeliharaan, yang perlu diperhatikan adalah kandungan nutrisi pakan, karena ini akan mempengaruhi produktivitas telur.  Pakan dengan kandungan protein yang rendah (di bawah jumlah kebutuhannya) menyebabkan ayam tidak bertelur.  Penurunan produktivitas bisa mencapai 50%, hal ini sangat merugikan bagi usaha ternak.  Sebagai ayam petelur, ayam Arab cukup sensitif terhadap respon pakan, jika hanya diberi dedak saja, produktivitas telur hanya tercapai sekitar 10-15%.  Jika terus menerus demikian ayam-ayam kemudian tidak dapat menghasilkan telur.  Untuk memulihkan kondisinya membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu, perbaikan pemberian pakan baru akan memberikan dampak produksi, yaitu ayam-ayam akan bertelur kembali.

Produksi telur juga bisa dipengaruhi oleh faktor luar lainnya; seperti ayam petelur lainnya ayam Arab memiliki sifat mudah stress, terhadap suara gaduh atau kehadiran orang asing di dekatnya. Untuk  menjaga agar produktivitasnya tetap tinggi diusahakan agar ayam-ayam terhindar dari hal-hal yang bisa membuat stress. Pada sistem pemeliharaan secara intensif, bisa diantisipasi dengan pemagaran keliling pada kandang. Diupayakan agar tidak sembarang orang bisa memasuki atau mendekat di sekitar kandang, terutama pada saat ayam-ayam sedang berproduksi.

Masa  produktif, mencapai puncak pada umur 2 tahun, umumnya produktivitas ayam mulai menurun setelah itu.  Produksi akan terus menurun dengan bertambahnya umur ayam. Disarankan untuk selalu mempersiapkan betina pengganti (replacement), agar ayam betina dengan produksi yang mulai menurun dapat diafkir untuk digantikan dengan ayam muda

Sumber : Farida Sukmawati M, penyuluh BPTP NTB


Kamis, 14 April 2022

PENGEMBANGAN BUDIDAYA HORTIKULTURA MODEL CLOSED-LOOP DI KABUPATEN SUKABUMI

 Latar Belakang

Sektor pertanian sering menghadapi persoalan mismatch antara produksi dan pemasaran. Hal ini terjadi karena adanya time lag yang cukup panjang antara waktu penanaman dengan saat produk dikonsumsi. Jarang sekali ditemui petani atau sekelompok petani dapat memenuhi secara persis apa yang diinginkan oleh pasar, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Akibatnya, baik petani maupun konsumen sering menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga.

Ini memerlukan upaya serius yang melibatkan berbagai aktor untuk dapat memberikan perubahan pada produktivitas pertanian dan jaminan pasar. Upaya optimalisasi baik manajemen produksi dan pemasaran hasil akan lebih mudah bila petani memperoleh contoh nyata yang dapat ditiru dari petani lain. Model closed-cloop ke depan diharapkan dapat menjadi success story yang dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan bisnis hortikultura di Indonesia.

 

Model Closed-Loop Implementasi di Sukabumi

Potensi berbagai pihak untuk bekerjasama dalam mengoptimalkan potensi sumberdaya dalam memecahkan berbagai tantangan di sektor pertanian terbuka lebar. Dalam hal ini, keberadaan para aktor di sepanjang rantai nilai pertanian, mulai dari hulu sampai ke hilir, from the field to the table, tidak boleh dipandang selalu dari sisi kompetisi, yang dalam slogan lama akan dapat menciptakan efisiensi. Dengan perkembangan situasi global dan domestik yang semakin vulnerable dan uncertain, maka sinergi antar aktor untuk menciptakan iklim berusaha yang berdaya saing, sekaligus berkeadilan, hendaknya lebih ditonjolkan dalam era pasca pandemi covid, termasuk dalam bidang pertanian.

Sebagai model bisnis awal untuk closed-loop, yang dikoordinasi oleh KADIN dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan di dukung oleh Pemerintah Daerah, komoditas cabe dipilih karena masih besarnya tantangan peningkatan produktivitas dan fluktuasi harga yang terjadi baik di pasar maupun di tingkat petani. Dari sisi sarana produksi pertanian, beberapa pihak dapat bersinergi secara langsung untuk mendukung aplikasi pertanian yang lebih presisi. Pada closed-loop ini PT. Ewindo sebagai produsen utama benih hortikultura akan menyediakan benih yang diperlukan untuk budidaya sayuran. PT. Pupuk Kujang Cikampek berperan dalam pendampingan aplikasi pupuk sehingga lebih optimal. PT. Syngenta berperan dalam penanggulangan hama dan penyakit. Perbaikan penggunaan faktor produksi utama dalam budidaya cabe oleh petani harus diikuti dengan tahap selanjutnya yang akan menentukan besaran penerimaan petani.

Setelah dilakukan proses panen dan penanganan pasca panen dengan baik, maka pasar yang menjadi muara dari produksi petani harus disiapkan dengan baik. Untuk dapat menjamin keberlanjutan dari proses pemasaran yang efisien, dukungan kelembagaan petani yang mapan sangat diperlukan. Dari kondisi saat ini akan dapat diidentifikasi tahapan pengembangan kelembagaan misalnya dari kelompok atau gapoktan menjadi koperasi atau dapat secara langsung membentuk korporasi petani. Idealnya, korporasi petani ini yang akan mengelola bisnis mulai dari penyediaan sarana produksi, budiaya yang sesuai dengan prosedur baku dan pemasaran produk, yang dimulai dengan sortasi, pengemasan sampai transportasi ke pasar penampung atau kosumen akhir. Dalam hal ini Paskomnas yang mempunyai jejaring pasar induk yang sudah baik, dapat melakukan kesepakatan yang bersifat jangka panjang dengan kelembagaan petani yang dibentuk tersebut. Selain itu, industri seperti PT. Indofood juga dapat melakukan kontrak dengan petani untuk kebutuhan pasokan secara rutin dalam jumlah yang memadai. Perusahaan lainnya ada Eden Farm yang siap bekerjasama dengan petani untuk menyerap hasil produksi petani.

Pengembangan model closed-loop harus didukung oleh teknologi informasi (ICT) yang memadai. Pengalaman dari Mercy Corp Indonesia yang sedang mengelola kegiatan pengembangan ICT pemberdayaan peran penyuluh di daerah beririgasi, termasuk di Sukabumi, diseminasi teknologi pertanian mulai dari penyediaan benih, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit sampai kepada pemasaran dapat dilakukan secara digital. Dalam hal ini, di Sukabumi akan di dukung oleh PT MSMB sebagai pengembang aplikasi RiTx Bertani.

Model closed-loop bersifat tidak kaku, peran dari aktor lain seperti perusahan-perusahan penyedia jasa asuransi pertanian, dll, tentu akan sangat bermanfaat. Untuk pembiayaan dalam closed-loop Sukabumi bekerjasama dengan BNI.



Value co-creation dari model dapat disusun setidaknya untuk meningkatkan kinerja bisnis hortikultura melalui sinergi antar pemangku kepentingan dalam budidaya cabe oleh petani. Peningkatan produktivitas dan tingkat harga yang lebih tinggi yang diterima oleh petani saat panen adalah contoh dari keluaran yang terukur. Dalam implementasi kegiatan ini tentunya petani bukan menjadi obyek. Dalam hal ini peran petani tokoh atau champion sangat penting. Dengan keberadaan duta petani milenial, Tokoh muda petani di daerah ini, bersama-sama dengan ratusan petani hortikultura siap menjadi bagian sentral. Mereka akan terus didorong oleh para penyuluh yang sudah dilengkapi dengan fasilitas ICT.

Program closed-loop di Sukabumi merupakan pilot project beserta Kabupaten Garut, hal ini dikarenakan di dua kabupaten ini terdapat program yang sedang berlangsung yakni ICT ADB Project yang bernama Leveraging ICT for Irrigated Agrucultural Extension. Oleh karena itu kenapa program closed-loop ini ada di Kelompok Tani Mandiri Desa Selaawi, Kecamatan Sukaraja.



Pelaksanaan program closed-loop di Sukabumi sudah dilaksanakan semenjak bulan November yang di awali dengan audiensi dari Kementerian Koordinator Perekonomian dengan Pemda Kabupaten Sukabumi. Adapun tahapan dari awal pelaksanaan audiensi sampai launching program closed-loop di jelaskan dalam tabel berikut:

TAHAPAN KEGIATAN KEMITRAAN CLOSED LOOP KOMODITAS HORTIKULTURA KABUPATEN SUKABUMI

NO

TANGGAL

KEGIATAN

LOKASI

1

12 November 2020

Audiensi Kementerian Koordinator Perekonomian dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi untuk kegiatan Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura

Pendopo Kabupaten Sukabumi

2

23 Desember 2020

Assessment CPCL Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura

Kantor BPP Kecamatan Sukaraja

3

28 Desember 2020

Assessment CPCL Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura

Poktan Tani Mandiri

4

25 Januari 2021

Assessment CPCL Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura oleh BNI

Kantor BPP Kecamatan Sukaraja

5

27 Januari 2021

Assessment CPCL Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura

Poktan Bibilintik II dan Poktan Tani Mandiri

6

8 Februari 2021

Penandatanganan Mou Kemitraan Program Closed Loop

Kantor Kemenko Perekonomian

7

24 Februari 2021

Rapat opsi Tanaman Tumpangsari dan RAB dengan Paskomnas

Virtual via zoom

8

25 Februari 2021

Rapat Kebutuhan, spesifikasi, dan jadwal pengiriman CRM dengan Indofood

Virtual via zoom

9

25 Februari 2021

Rapat revisi RAB CRM dan tumpangsari dengan BNI

Virtual via zoom

10

26 Februari 2021

Rakor Pelaksanaan Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura

Hotel Selabintana

11

27 Februari 2021

Diskusi Implementasi SOP Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura

Poktan Tani Mandiri

12

8 Maret 2021

Rapat Koordinasi Pemasaran Produk Holtikultura

Kantor Paskomnas Indonesia

13

24 Maret 2021

Penanaman Perdana Kemitraan Closed Loop Komoditas Hortikultura

Learning Center Closed Loop Komoditas Hortikultura

 

Berikut CPCL Closed-loop data awal untuk selanjutnya dilakukan assessment Bersama yang dilaksanakan di kantor BPP Kecamatan Sukaraja.

CPCL KEGIATAN CLOSED LOOP

KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN SUKABUMI TAHUN 2020

NO

NAMA PETANI

KELOMPOK TANI

DESA

LUAS (M2)

JADWAL TANAM

1

H. Ade

Tani Jaya

Pasirhalang

4000

Januari 2021

2

Syamsul

Mekar 2

Pasirhalang

5000

Januari 2021

3

Ece Sasmita

Mekar 2

Pasirhalang

3500

Januari 2021

4

Abim

Mekar 2

Pasirhalang

1500

Januari 2021

5

Jahid

Bibilintik 2

Langensari

1000

Januari 2021

6

Asep

Bibilintik 2

Langensari

1000

Januari 2021

7

Dedi Supriyadi

Bibilintik 2

Langensari

500

Januari 2021

8

Solehudin

Bibilintik 2

Langensari

2000

Januari 2021

9

Saepudin

Bibilintik 2

Langensari

2000

Januari 2021

10

Ma'up

Bibilintik 2

Langensari

3000

Januari 2021

11

Dadun

Bibilintik 2

Langensari

2000

Januari 2021

12

Asep Junaedi

Tani Mandiri

Selaawi

3500

Januari 2021

13

Bu Hanan

Tani Mandiri

Selaawi

2000

Januari 2021

14

Agung

Tani Mandiri

Selaawi

3000

Januari 2021

15

Sandi

Faju Silvi

Margaluyu

2000

Januari 2021

16

Pak Tjipta

Faju Silvi

Margaluyu

1000

Januari 2021

17

Rifki Ismail Apriansyah

Bibilintik 2

Langensari

2000

Februari 2021

18

Ujang Solehudin

Harapan Maju 1

Selawangi

5000

Januari 2021

 

Jumlah

44000

4.4 Ha

 

Setalah dilakukan assessment ada beberapa petani yang mengundurkan diri bergabung dalam program dan berikut CPCL Closed-loop hasil assessment untuk selanjutnya dilakukan BI checking oleh BNI sebagai proses yang harus dilalui untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan.

CPCL KEGIATAN CLOSED LOOP

 

KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN SUKABUMI TAHUN 2020

 

 

NO

NAMA PETANI

KELOMPOK TANI

DESA

LUAS (M2)

JADWAL TANAM

Ketinggian Lahan (m DPL)

Pengalaman tanam cabe (Tahun)

1

H. Ade

Tani Jaya

Pasirhalang

       4.000

Januari 2021

500 m DPL

New

2

Jahid

Bibilintik 2

Langensari

       1.000

Januari 2021

750 m DPL

20 THN

3

Asep

Bibilintik 2

Langensari

       1.000

Januari 2021

750 m DPL

New

4

Solehudin

Bibilintik 2

Langensari

       2.000

Januari 2021

750 m DPL

7 THN

5

Saepudin

Bibilintik 2

Langensari

       2.000

Januari 2021

750 m DPL

10 THN

6

Ma'ruf

Bibilintik 2

Langensari

       3.000

Januari 2021

750 m DPL

20 THN

7

Dadun

Bibilintik 2

Langensari

       2.000

Januari 2021

750 m DPL

10 THN

8

Asep Junaedi

Tani Mandiri

Selaawi

       3.500

Januari 2021

850 m DPL

30 THN

9

Bu Hanan

Tani Mandiri

Selaawi

       2.000

Januari 2021

800 m DPL

12 THN

10

Agung

Tani Mandiri

Selaawi

       3.000

Januari 2021

800 m DPL

3 THN

11

Ujang Sandi

Faju Silvi

Margaluyu

       2.000

Januari 2021

800 m DPL

4 THN

12

Pak Tjipta

Faju Silvi

Margaluyu

       1.000

Januari 2021

850 m DPL

10 THN

13

Rifki Ismail Apriansyah

Bibilintik 2

Langensari

       2.000

Februari 2021

750 m DPL

New

14

Ujang Solehudin

Harapan Maju 1

Selawangi

       5.000

Januari 2021

450 m DPL

25 THN

15

Ujang Miftahudin

Tani Mandiri

Selaawi

       2.000

Januari 2021

850 m DPL

1 THN

 

Total

 

 

     35.500

 

 

 

 

Dari 15 orang CPCL yang lolos BI Checking hanya ada 5 orang yakni : Solehudin, Saepudin, Agung, Ujang Sandi, Ujang Miftahudin. Namun dari 5 orang ini yang akhirnya mendapatkan KUR BNI ada 3 orang yakni, Solehudin, Ujang Sandi, dan Ujang Miftahudin. Agung mengundurkan diri karena tidak diijinkan oleh istrinya, dan Saepudin tetap ikut program closed-loop dengan biaya sendiri tanpa pembiayaan dari perbankan. Berikut CPCL terakhir untuk program Closed-loop Sukabumi:

CPCL KEGIATAN CLOSED LOOP

KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN SUKABUMI TAHUN 2021

 

NO

NAMA PETANI

LUAS (M2)

Tanaman Utama

Pembiayaan

Pilihan Tanaman Tumpangsari

 

1

Solehudin

        2.000

CRM

 KUR BNI

Sawi Putih, Buncis

 

2

Saepudin

        1.000

CMK

 Biaya sendiri

Sawi Putih, Buncis

 

3

Asep Junaedi

        4.000

CRM

 Biaya sendiri

Sawi Putih, Buncis

 

4

Ujang Sandi Priatna

        1.000

CRM

 KUR BNI

Sawi Putih, Buncis

 

5

Ujang Miftahudin

        2.000

CRM

 KUR BNI

Sawi Putih, Buncis

 

Total

      10.000

 

 

 

 

 

Dalam Program closed-loop ini petani di ajak untuk lebih professional karena sudah bekerja sama dengan off-taker sehingga harus di buat rencana tanam dan panen (tabel terlampir).

Akomodasi Hasil Produksi

Untuk mengirim hasil produksi petani closed-loop ke Paskomnas biaya transportasinya akan di support oleh Kementerian Pertanian yang akan diajukan melalui Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi sebanyak 30 kali panen. Selain itu, Kementerian Pertanian akan support untuk keperluan sewa Gudang selama 7 bulan karena untuk Kerjasama dengan PT Indofood Kelompok Tani harus memiliki Gudang pemilahan hasil panennya. Untuk peralatan yang di butuhkan untuk Gudang belum tersedia, harapannya sementara ini bisa di support oleh Pemda Kabupaten Sukabumi.

 





SINERGITAS PROGRAM CLOSED-LOOP DENGAN PROGRAM YESS

Off-taker yang sudah akan Kerjasama dengan Kelompok Tani Tani Mandiri adalah Paskomnas dan PT Indofood. Untuk Kerjasama dengan Paskomnas, Paskomnas mendorong Kelompok Tani menjadi Koperasi karena peluang Kerjasama dengan koperasi akan lebih luas. Dengan dorongan tersebut dan ada peluang dari Kementerian Koperasi dan UMKM apabila Kelompok Tani sudah menjadi Koperasi maka ada program dari Kementerian Koperasi dan UMKM.

Dengan adanya peluang-peluang tersebut, Program Closed-loop dan BPP Kecamatan Sukaraja mendorong dan memfasilitasi Kelompok Tani Tani Mandiri menjadi Koperasi. Saat ini proses pembentukan Koperasi dari Poktan ini sedang menunggu Akta Notaris. Poktan Tani Mandiri sudah bertransformasi menjadi Koperasi Produksi Tani Mandiri Sejahtera Sukabumi.

Dengan sudah bertransformasinya Poktan menjadi Koperasi, Prof. Firdaus sebagai akademisi dari program Closed-loop beserta Kemenko Perekonomian mendorong Program Closed-loop untuk bersinergi dengan Program YESS. Integrasi ini di maksudkan agar petani muda yang bergabung dalam program YESS dan memiliki minat terhadap hortikultura bisa bergabung dengan program closed-loop yang terlebih dahulu menjadi anggota Koperasi karena Kerjasama dengan off-taker akan dilakukan dengan Koperasi Produksi Tani Mandiri Sejahtera Sukabumi. Proses integrasi kedua program sudah pada tahap identifikasi petani muda yang akan bergabung pada program Closed-loop. Setelah petani muda yang siap bergabung dengan program closed-loop makan akan dilaksanakan launching untuk integrasi kedua program ini. Lebih jelasnya Program integrasi Closed-loop dengan YESS adalah sebagai berikut:

1. Program CL-YESS akan difokuskan di Kecamatan Sukaraja dan luar Kecamatan Sukaraja. Koperasi di lokasi eksisting akan dijadikan sebagai hub/agregator.

2. Pada tanggal 31 Mei 2021 minimal 15 petani CPCL hortikultura Kec. Sukaraja sudah teridentifikasi untuk tergabung dalam program CL-YESS. Petani CL yg belum masuk dalam CPCL YESS akan dimasukkan dalam CPCL YESS Kabupaten Sukabumi.

3. Kegiatan yang dilakukan dalam program CL-YESS adalah pelatihan kelas khusus dimulai dari aktivitas sebagai berikut:

a. Pengenalan pasar dan motivasi usaha dari para pakar bisnis (KADIN, PT Paskomnas Indonesia, Eden Farm, PT Indofood, dll) pada minggu kedua Juni 2021;

b. Pelatihan GAP dan GHP, serta pelatihan crop management;

c. Pelatihan literasi keuangan/manajemen keuangan bertani;

d. Digitalisasi pertanian;

4. Selanjutnya akan dilakukan persiapan launching integrasi program Closed-Loop dan YESS dan sekaligus penetapan Koperasi Produsen Tani Mandiri Sejahtera Sukabumi sebagai hub integrasi bisnis.