Selasa, 14 Juni 2011

Ayam Arab


Ayam Arab, merupakan keturunan dari Ayam Brakel Kriel-Silver dari Belgia; keberadaannya di Indonesia karena dibawa oleh orang-orang  Indonesia yang datang dari  Saudi Arabia.  Ciri khasnya adalah warna putih mengkilap di sepanjang leher, punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih. 

Dari penampilan tubuhnya, tinggi Ayam Arab dewasa mencapai 35 cm dengan bobot 1,5-2 kg. Kepalanya mempunyai jengger berbentuk tunggal dan bergerigi. Ayam ini berbulu tebal. Ayam Arab betina dewasa tingginya mencapai 25 cm dengan bobot 1,0-1,5 kg. Kepalanya berjengger tipis, bergerigi. Badannya berbulu tebal. Selama usia produktif antara 0,8 - 1,5 tahun, betina arab terus-menerus bertelur, sehingga hampir setiap hari menghasilkan telur.

Masyarakat memelihara Ayam Arab terutama untuk produksi telur, yang mencapai 190-250 butir per tahun dengan berat telur 42,3 gram. Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2% dari total berat telur. Warna kerabang telur sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan coklat. Warna kulit yang kehitaman dengan daging yang lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai pedaging.

Namun potensi genetis ayam Arab akan muncul jika kondisi lingkungannya memungkinkan. Pemeliharaannya bisa dilakukan secara intensif di kandang batery atau  semi intensif, diumbar.  Terutama pakan sangat mempengaruhi produksi telurnya. Beberapa pengalaman pemelihara ayam Arab, bahwa pemberian pakan campuran dedak, jagung dan konsentrat dengan perbandingan 1 : 2 : 3 dapat menghasilkan produksi 70-80% selama 2 tahun. Produktivitas ayam Arab menurun dengan bertambahnya umur ayam.

Ayam Arab termasuk jenis petelur tipe ringan dibawah 1880 gr per ekor.  Konsumsi pakan umumnya maksimal 100 gr/ekor/hari.  Dengan adanya batasan pemberian ransum ini maka sebaiknya penyusunan ransum yang tepat sesuai kebutuhan karena kelebihan ransum dapat menyebabkan ayam menjadi gemuk dan menurunkan produksi telur,    (Wahyu, 1988). 

Ransum yang dikonsumsi oleh unggas harus dapat memenuhi segala kebutuhan unsur-unsur gizi utama dan pra utama bagi unggas, sehingga menghasilkan produksi yang optimal. Produksi yang optimal dikaitkan dengan prinsip ekonomis dan teknis peternakan.  Produksi yang optimal dimana produksi telur dapat memberikan tingkat manfaat semaksimal mungkin kepada peternak. Ransum untuk ayam berproduksi pada komposisi yang baik adalah dengan kandungan protein 17% dan energinya 2850 kkal/kg; akan menghasilkan produksi telur yang baik untuk daerah tropis (Rasyaf, 1995).  Perhitungan kandungan ransum dapat dilakukan secara sederhana dengan membandingkan jumlah komposisi antara pakan sumber protein dan sumber karbohidrat.  Jika ransum yang tersedia hanya dedak dan konsentrat (pabrik) maka komposisi 3 : 1 sudah mendekati kandungan nutrisi (protein dan energi) di atas.

Dalam manajemen pemeliharaan, yang perlu diperhatikan adalah kandungan nutrisi pakan, karena ini akan mempengaruhi produktivitas telur.  Pakan dengan kandungan protein yang rendah (di bawah jumlah kebutuhannya) menyebabkan ayam tidak bertelur.  Penurunan produktivitas bisa mencapai 50%, hal ini sangat merugikan bagi usaha ternak.  Sebagai ayam petelur, ayam Arab cukup sensitif terhadap respon pakan, jika hanya diberi dedak saja, produktivitas telur hanya tercapai sekitar 10-15%.  Jika terus menerus demikian ayam-ayam kemudian tidak dapat menghasilkan telur.  Untuk memulihkan kondisinya membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu, perbaikan pemberian pakan baru akan memberikan dampak produksi, yaitu ayam-ayam akan bertelur kembali.

Produksi telur juga bisa dipengaruhi oleh faktor luar lainnya; seperti ayam petelur lainnya ayam Arab memiliki sifat mudah stress, terhadap suara gaduh atau kehadiran orang asing di dekatnya. Untuk  menjaga agar produktivitasnya tetap tinggi diusahakan agar ayam-ayam terhindar dari hal-hal yang bisa membuat stress. Pada sistem pemeliharaan secara intensif, bisa diantisipasi dengan pemagaran keliling pada kandang. Diupayakan agar tidak sembarang orang bisa memasuki atau mendekat di sekitar kandang, terutama pada saat ayam-ayam sedang berproduksi.

Masa  produktif, mencapai puncak pada umur 2 tahun, umumnya produktivitas ayam mulai menurun setelah itu.  Produksi akan terus menurun dengan bertambahnya umur ayam. Disarankan untuk selalu mempersiapkan betina pengganti (replacement), agar ayam betina dengan produksi yang mulai menurun dapat diafkir untuk digantikan dengan ayam muda.


Rabu, 23 Maret 2011

RAMUAN PESTISIDA NABATI



1) Untuk Mengendalikan Hama secara Umum Bahan:
- Daun Mimba : 8 kg
- Lengkuas : 6 kg
- Serai : 6 kg
- Diterjen/Sabun Colek : 20 kg
- Air : 80 liter

Cara Membuat:
- Daun mimba, lengkuas dan semi ditumbuk halus dicampur dengan diterjen/sabun colek lalu tambahkan 20 liter air diaduk sampai merata. Direndam selama 24 jam kemudian saring dengan kain halus. Larutan akhir encerkan dengan 60 liter air. Larutan tersebut disemprotkan pads tanaman untuk luasan 1 hektar.

2) Untuk Mengendalikan Hama Trips pada Cabai
Bahan

- Daun Sirsak 50 - 100 lembar
- Deterjen/Sabun Colek 15 gr.
- Air 5 liter.

Cara Membuat
- Daun sirsak ditumbuk halus dicampur dengan 5 liter air.
- Direndam selama 24 jam, saying dengan kain halus.
- Setiap liter Iarutan dapat diencerkan dengan 10 - 15 liter air.
- Aplikasi dengan menyemprotkan larutan tersebut pada seluruh bagian tanaman yang ada hamanya.

3) Ramuan untuk Mengendalikan Hama Belalang dan Ulat.
Bahan
- Daun Sirsak 50 lembar
- Daun Tembakau satu genggam
- Deterjen/Sabun Colek 20 gr.
- Air 20 liter.

Cara membuat
- Daun sirsak dan tembakau ditumbuk halus. Tambahkan deterjen/sabun colek aduk
dengan 20 liter air, endapkan 24 jam.
- Disaring dengan kain halus dan diencerkan dengan 50 - 60 liter air, aplikasi dengan cara
disemprotkan.

4) Mengendalikan" Hama Wereng Coklat, Penggerek Batang dan Nematoda.
Bahan:
- Biji Mimba 50 gr.
- Alkohol 10 cc.
- Air 1 liter.

Cara membuat :
- Biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan 10 cc alkohol, encerkan dengan 1 liter air,
endapkan selama 24 jam, wring dan dapat disemprotkan pada tanaman/serangga hama.

5) Ramuan untuk Mengendalikan Hama Tanaman Bawang Merah.
Bahan
- Daun Mimba 1 kg.
- Umbi Gadung Racun 2 buah.
- Deterjen/Sabun Colek sedikit.
- Air 20 liter.

Cara membuat
- Daun mimba dan umbi gadung ditumbuk halus, ditambah deterjen/sabun colek aduk
dengan 20 liter air, endapkan 24 jam, saring dan dapat disemprotkan pads tanaman.
Bahan
- Limbah daun tembakau 200 kg.
Cara membuat
- Dihancurkan/ditumbuk dihaluskan, cara aplikasi tumbuhan dan tembakau ditaburkan
bersama pemupukan untuk 1 hektar. Limbah dan tembakau itu baik untuk
mengendalikan penyakit karena jamur, bakteri dan mematoda.

6) Ramuan untuk Mengendalikan Tikus.
Bahan
- Umbi Gadung Racun 1 kg.
- Dedak padi. 10 kg.
- Tepung ikan 1 ons.
- Kemiri sedikit.
- Air sedikit.

Cara membuat:
- Umbi dikupas, dihaluskan, semua bahan dicampurkan tambah air dibuat pelet. Sebarkan
pelet dipematang sawah tempat tikus bersarang.


Dikutip dari Tulisan
Ir. Koswara Wijaya

Kamis, 06 Januari 2011

ANALISA USAHA

Asumsi Usaha penggemukan domba
  • penggemukan per unit kandang berisi 20 ekor
  • masa penggemukan 60 hari (1 periode)
  • berat awal rata-rata 20 kg/ekor
  • berat akhir pemeliharaan rata-rata 35 kg/ekor dengan prosentase karkas 45% harga karkas (disembelih) Rp. 40.000,-,
  • harga jual hasil penggemukan Rp. 500.000,-/ekor
  • harga bibit/bakalan Rp. 250.000/ekor
  • umur ekonomis kandang dan peralatan selama 20 periode
  • harga kotoran (pupuk) bernilai Rp. 300.000/ periode pemeliharaan
1. BIAYA
Uraian
Jumlah
A. Biaya Investasi
1
Kandang
Rp. 4.500.000
2
Peralatan
Rp. 1.000.000
3
Sewa Lahan
Rp. 1.500.000
Total Investasi
Rp. 7.000.000
B. Biaya Tetap
1
Penyusutan kandang (Rp.4.500.000/20)
Rp.    225.000
2
Penyusutan Peralatan (Rp.1.000.000/20)
Rp.       50.000
Total Biaya Tetap
Rp.     275.000
C. Biaya Variabel
1
Biaya bibit/bakalan (30 ekor x Rp.225.000)
Rp.  6.750.000
2
Hijauan pakan ternak (60 hari x 30 ekor x 4kg x Rp.100)
Rp.     720.000
3
Pakan konsentrat (60 hari x 30ekor x 0,250kg x Rp. 1.800)
Rp.  3.150.000
4
Obat-obatan (30 ekor x Rp.5.000,-)
Rp.     150.000
5
Upah Tenaga Kerja (1 orang x Rp. 1.500.000)
Rp.  1.500.000
6
Listrik
Rp.     200.000
7
Air
Rp.     300.000
8
Transport
Rp.     500.000
Total Biaya Variabel
Rp.10.930.000
D. Biaya Total (biaya tetap + biaya variable)
Rp.11.205.000
E. Modal Usaha (biaya investasi + biaya total)
Rp.18.205.000 

2. PENERIMAAN
No
Uraian
Jumlah
1
30 ekor x Rp. 500.000
Rp. 15.000.000
2
Kotoran (pupuk)
Rp.      300.000
Total
Rp. 15.300.000 

3. ANALISA LABA-RUGI
 Keuntungan = Hasil Penerimaan-Biaya Total (15.300.000-11.205.000) = Rp. 4.095.000

4. KEUNTUNGAN BILA DIJUAL DALAM BENTUK KARKAS
 - Tambahan biaya pemotongan (30 ekor x Rp. 25.000,-)                  Rp.       750.000
 - Penerimaan:
   a. nilai karkas (30 ekor x 0,45 x 35kg x Rp.40.000)                      Rp. 18.900.000
   b. kulit dan jeroan (30 ekor x Rp. 100.000)                                   Rp.   3.000.000
   c. nilai kotoran (pupuk)                                                                  Rp.      300.000
                Total                                                                                Rp. 22.200.000

Keuntungan Rp.22.200.000-Rp.750.000-Rp.11.205.000    = Rp.    10.245.000

PENGGMEMUKAN DOMBA



PENDAHULUAN
Cara penggemukan domba sebenarnya tidak sulit. Namun ada beberapa hal
yang harus diperhatikan peternak agar usaha penggemukan ini lebih
menguntungkan.

1. BIBIT
Bibit domba harus sehat dan tidak cacat penampilan fisiknya harus baik,
bulunya harus tampak seperti basah, kakinya tegak dan besar, dan
moncongnya tumpul.
Sebaiknya dipilih domba jantan untuk digemukkan karena pertumbuhannya
lebih cepat dan pada yang betina. Domba jantan itu harus dipilih yang baru
lepas sapih (berumur 6-8 Bulan), giginya masih rapat dan belum tanggal, dan
berat rata-ratanya 20 kg. Misalnya yang umurnya 12 bulan atau sedang
tanggal gigi, biasanya mengaIami masa stress dan bobotnya juga turun,
sehingga menggangu proses penggemukan.
Bibit domba jantan ini juga dipilih yang tidak bertanduk dan sifatnya tenang,
karena domba yang bertanduk mempunyai naluri berkelahi yang tinggi dan
pertumbuhannya cenderung lebih lambat. Pada akhir masa penggemukan,
berat domba bertanduk bisa berbeda 1-2 kg lebih rendah dibandingkan
dengan yang tidak bertanduk: Kerugian lain, domba bertanduk sering
merusak kandang.
Domba yang akan digemukkan ukurannya besar atau kecil tidak jadi
masalah, yang penting harganya murah Pertimbangannya kalau dijual akan
lebih menguntungkan.

2. PENCEGAHAN KESEHATAN
Domba harus juga dijaga dan dirawat kesehatannya sejak awal. Lingkungan
nyapun dihindarkan agar tidak sampai menimbulkan stress. Untuk itu
pengobatan pencegahan perlu dilakukan ketika bibit baru datang, sebelum
dimasukkan kedalam kandang. Biasanya dengan pengobatan sekali itu, bibit
domba yang akan digemukkan tidak terkena penyakit ataupun stress sampai
masa penggemukan berakhir.
Domba yang baru datang harus langsung dicukur bulunya, Agar bibit
penyakit, kutu, dan parasit. lain bisa segera terbasmi.
Dengan pencukuran ini, hasil dari penggemukanpun langsung terlihat mahal,
bila setiap periode penggemukan hasil bulu cukurannya banyak, bisa dijual
untuk menambah penghasilan. Setelah dicukur, domba langsung dimandikan
sampai bersih dari semua kotoran yang melekat hilang. Untuk mencegah
penyakit, domba disuntik antibiotik dari obat cacing. Terakhir, untuk
mencegah stress, bibit domba itu diberi obat anti stress.

3. PENGATURAN PAKAN
Pada tahap awal penggemukan atau penyesuaian, yaitu sejak domba masuk
kandang sampai 7 minggu, pertama, setiap ekor domba per harinya diberi
konsentrat 1,5-2 ons, ampas tahu 7 on dan rumput 3
kg. Caranya pada
pukul 05.00 ampas tahu dan konsentrat diberi lebih dahulu kalau pemberian
keduanya dicampurkan dengan rumput domba akan kurang meminatinya,
karena ia lebih tertarik pada rumput. Rumput baru diberikan pada pukul 09.30
dan diulangi dalam jumlah yang sama pada pukul 15.00.
Air diberikan setiap kali domba selesai diberi pakan rumput jum lahnya tak
terbatas.
Pada hari-hari pertama tahap penyesuaian ini (2-3 hari), domba belum begitu
bernafsu memakannya, karena belum biasa. Akan tetapi, setelah lewat masa
itu, jumlah pakan sebanyak itu akan dihabiskannya.
Sejak minggu ke-2 dan minggu selanjutnya sampai masa penggemukkan
berakhir, waktu dan jumlah pemberian pakannya sama. Hanya saja, jumlah
konsentratnya berubah. Untuk minggu ke-2, konsentrat yang diberikan 2,5-3
ons, minggu ke-3 (umur 15-25 hari) menjadi 4 ons, lulu bertambah menjadi 5
ons sampai panen.

4. PERKANDANGAN
Kandang sistem baterei yang dipergunakan untuk penggemukan ini diisi
seekor domba perkandang. Panjang kandang dibuat 1m, lebar 60 cm, tinggi
60 cm. Satu lokasi ( satu atap) terdiri dari 2 baris kandang yang tidak saling
berhadapan tiap barisnya.
Agar domba mau makan lebih bernafsu, setiap wadah pakan sebaiknya
digunakan untuk 2 domba. Wadah pakan itu diletakan disisi luar dan tidak
saling berhadapan dengan barisan kandang lainnya.
Wadah pakan itu bisa dibuat dari bambu atau bahan lain yang mudah didapat
serta harganya murah. Atapnya dibuat dari alang-alang atau rumbia yang
telah tua, dibuat berkemiringan 45°. Dengan atap rumbia, pada siang hari
kandang tidak terlalu panas dan pada malam harinya menjadi hangat. Kalau
menggunakan atap seng, domba sering stress, karena siangnya terlalu panas
dan malamnya terlalu dingin.

5. WAKTU PAN EN
Hai lain yang ikut menentukan besarnya keuntungan menggemukan domba
cara ini ialah waktu pemeliharaan, Sekalipun pertumbuhannya cepat, namun
pada suatu saat kecepatan pertumbuhannya akan berkurang dan dari segi
ekonomi tidak lagi menguntungkan.
Karena domba sering digemukan sejak lepas sapih, maka waktu
penggemukan yang lebih tepat ialah 45 hari. Kalau masa penggemukkannya
terlalu lama ( misalnya lebih dari 60 hari ), penggemukkan ini akan melewati
masa tanggal gigi yang bisa menurunkan bobot badannya. Selain itu, dengan
waktu penggemukkan hanya 45 hari perputaran uang menjadi lebih cepat
Domba yang sebelumnya berat rata-ratanya 20 kg, setelah 45 hari
penggemukkan bisa mencapai 32 kg. Bila harga daging domba hidup Rp.
10.000,. per kg, maka bisa dihitung berapa keuntungannya.