Minggu, 10 Juli 2011

BOKASHI (BAHAN ORGANIK KAYA AKAN SUMBER HAYATI)

Bokashi adalah pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisms 4). Keunggulan penggunaan teknologi EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. EM4 sendiri mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa. Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar lahan pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.

A. Pembuatan Bokashi
Bahan pembuatan bokashi (jerami, rumput, pupuk hijau, pupuk kandang dan sebagainya) dapat berupa bahan yang sudah kering ataupun masih basah (segar). Ada beberapa jenis bokashi, yaitu : 

1. Bokashi Jerami
 Bahan yang digunakan:
a. Jerami sebanyak 10 kg (bisa juga rumput atau tanaman kacangan) yang telah dipotong-potong sehingga jerami berukuran panjang sekitar 5-10 cm.
b. Dedak sebanyak 0,5 kg dan sekam sebanyak 10 kg.
c. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d. Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.

Cara pembuatan :
a. Pertama-tama dibuat larutan dari EM4, molasses/ gula dan air dengan perbandingan 1 ml : 1 ml :1 liter air.
b. Bahan jerami, sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering.
c. Selanjutnya bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk adonan. Adonan yang terbentuk jika dikepal dengan tangan, maka tidak ada air yang keluar dari adonan. Begitu juga bila kepalan dilepaskan maka adonan kembali mengembang (kandungan air sekitar 30%).
d. Adonan selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Gundukan selanjutnya ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. Selama dalam proses, suhu bahan dipertahankan antara 40-50o C. Jika suhu bahan melebihi 50o C, maka karung penutup dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selanjutnya gundukan ditutup kembali.
e. Setelah empat hari karung goni dapat dibuka. Pembuatan bokashi dikatakan berhasil jika bahan bokashi terfermentasi dengan baik. Ciri-cirinya adalah bokashi akan ditumbuhi oleh jamur yang berwarna putih dan aromanya sedap. Sedangkan jika dihasilkan bokashi yang berbau busuk, maka pembuatan bokashi gagal.
f. Bokashi yang sudah jadi sebaiknya langsung digunakan. Jika bokashi ingin disimpan terlebih dahulu, maka bokashi harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara mengangin-anginkan di atas lantai hingga kering. Setelah kering bokashi dapat dikemas di dalam kantung plastik.

Penggunaan : Bokashi jerami sangat baik digunakan untuk melanjutkan proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan pertanian. Bokashi jerami juga sesuai untuk diaplikasikan di lahan sawah.

2. Bokashi Pupuk Kandang
 Bahan yang digunakan :
a. Pupuk kandang sebanyak 15 kg.
b. Sekam sebanyak 10 kg dan dedak sebanyak 0,5 kg.
c. Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.

Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan pupuk kandang. Penggunaan: Penggunaan bokashi pupuk kandang sama dengan penggunaan bokashi jerami. Selain itu bokashi pupuk kandang baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang diaplikasikan dengan tanah pada perbandingan 1:1.

3. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Arang
 Bahan yang digunakan :
a. Pupuk kandang sebanyak 10 kg, dedak sebanyak 0,5 kg, arang sekam/arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg.
b. Molases\gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
c. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.

Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang ditambah arang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan kotoran hewan (pupuk kandang) dan arang sekam\arang serbuk gergaji.

4. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Tanah
 Bahan yang digunakan :
a. Pupuk kandang sebanyak 5 kg dan tanah sebanyak 10 kg.
b. Arang sekam\arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg dan dedak halus sebanyak 5 kg.
c. Molases/gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.

Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang tanah mirip dengan pembuatan bokashi pupuk kandang-arang, hanya perlu ditambahkan tanah. Penggunaan: Bokashi pupuk kandang-tanah baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang cukup dicampur dengan tanah pada perbandingan 1:1.

5. Bokashi Ekspres (24 jam)
Bahan yang digunakan :
a. Jerami kering, daun kering, serbuk gergajian dan bahan lainnya sebanyak 10 kg.
b. Pupuk kandng sebanyak 5 kg dan dedak sebanyak 1 kg.
c. Molases\gula pasir sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.

Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi ekspres sama dengan cara pembuatan bokashi pupuk kandang-tanah, hanya bahan-bahan yang akan difermentasikan dicampur dengan bokashi yang sudah jadi dan dedak secara merata. Proses fermentasi hanya berlangsung selama 24 jam dan sesudahnya bahan dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik. Penggunaan : Bokashi ekspres sangat baik untuk dijadikan mulsa pada pertanaman sayuran dan buah-buahan. Cara penggunaan : Cara pengaplikasian bokashi adalah sebagai berikut :

1. Untuk lahan tegalan dan sawah
 Penggunaan bokashi untuk setiap meter perseginya adalah sekitar 3-4 genggam bokashi, kecuali pada tanah yang kurang subur dapat dilebihkan. Bokashi disebar merata di atas permukaan tanah. Pemberian dapat juga dilakukan dengan cara mencampur bokashi dan tanah. Hal ini dapat dilakukan pada waktu pengolahan tanah. Sedangkan pada tanah sawah pemberian bokashi dilakukan saat pembajakan dan setelah tanaman berumur 14 hari dan 30 hari.

2. Untuk tanaman buah-buahan
Bokashi disebar secara merata di permukaan tanah atau di sekitar daerah perakaran. Selanjutnya larutan EM4 disiramkan dengan dosis 2 ml per liter air setiap dua minggu sekali.

3. Untuk pembibitan
Lahan yang akan dijadikan sebagai tempat pembibitan disiram dengan larutan EM4 dengan dosis 2 ml per liter air. Selanjutnya lahan dibiarkan selama satu minggu sebelum lahan siap untuk digunakan.

B. Kegunaan Lain EM4

Selain untuk pembuatan bokashi, EM4 dapat juga digunakan sebagai pestisida organic seperti EM5, super EM5, EMRAS dan pestisida alami dari ekstrak tanaman. EM5 digunakan sebagai pestisida untuk penanggulangan hama dan penyakit tahap awal. Sedangkan Super EM5 digunakan untuk menanggulangi hama dan penyakit pada tahap kronis.

1. EM5 dan Super EM5
Bahan yang digunakan :
a. Molases/gula, cuka makan/cuka aren 5%, alcohol 40% masing-masing sebanyak 100 ml.
b. EM4 100 ml dan air sebanyak 1 liter. (Khusus untuk pembuatan super EM5 tidak digunakan air).

Cara pembuatan :
a. Semua bahan dimasukkan ke dalam botol/jerigen. Selama 15 hari selanjutnya wadah dikocok pada pagi dan sore harinya. Unttuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi, tutup botol dibuka sebentar.
b. Kegiatan pengocokan dihentikan pada hari ke 15 setelah tidak ada lagi gas yang terbentuk. Selanjutnya dibiarkan selama tujuh hari. Selanjutnya EM5 dapat digunakan.

Dosis pemakaian :
a. EM5: 10-50 ml (2-10 sdm)/l air + 10-50 ml molasses.
b. Super EM5: 5 ml (1 sdm)/l air + 5 ml molasses.

Waktu pengaplikasian : Waktu pengaplikasian EM5 dan super EM5 sebaiknya dilakukan pada sore hari. EM5 dan super EM5 digunakan paling lama tiga bulan.

2. EMRAS (EM4 dengan air beras)
Bahan yang digunakan : Bahan yang digunakan terdiri dari air beras sebanyak 1 l, molasses\gula sebanyak 10 ml dan EM4 sebanyak 10 ml (2 sdm). Cara pembuatan dan aplikasi : Bahan-bahan tersebut di atas dicampurkan semuanya dan selanjutnya dibiarkan selama dua hari. Setelah itu EMRAS dapat diaplikasikan. Namun EMRAS harus sudah habis diaplikasikan pada hari ketiga (satu hari setelah proses pembuatan selesai). Selain sebagai pestisida, EMRAS dapat juga digunakan sebagai pupuk. Dosis pemakaian:
Dosis yang digunakan adalah 5 ml/l air.

3. Pestisida Alami dari Ekstrak Tanaman
Bahan yang digunakan :
a. Daun legum/kacang-kacangan (kacang babi), terutama yang masih muda.
b. EM4 sebanyak 20 ml/l air.

Cara pembuatan : Daun-daunan dicincang dan selanjutnya diberi larutan EM4. Bahan selanjutnya direndam selama 3-5 hari. Selama direndam bahan ditutupi dengan plastik hitam. Setelah lima hari larutan dapat digunakan sebagai pestisida. Dosis pemakaian : Dosis pemakaian adalah 5 ml/l air.

Kamis, 07 Juli 2011

KURANGI PENGGUNAAN INSEKTISIDA BERBAHAN KARBOFURAN


Furadan, Kurater, Kresnadan adalah beberapa contoh saja insektisida berbahan aktif karbofuran. Karbofuran merupakan bahan aktif insektisida yang aplikasinya umumnya dilakukan ditaburkan kedalam tanah. Insektisida ini ini biasanya mempunyai formulasi Granule (G). Bahan dasar insektisida ini adalah pasir yang kemudian dicampur dengan bahan aktif karbofuran dengan konsentrasi 3 gr/ 1 kg pasir.
Gambaran sederhana cara kerja karbofuran adalah jika diaplikasikan ke dalam tanah dengan segera karbofuran akan terserap oleh tanaman. Karbofuran akan masuk ke dalam seluruh jaringan tanaman tidak terkecuali daun dan buahnya. Ketika ada serangga yang memakan salah satu bagian tanaman tesebut serangga tersebut akan keracunan karbofuran dan akhirnya akan mati.
Insektisida berbahan aktif karbofuran merupakan insektisida legendaris yang masih sering digunakan sampai sekarang karena memang efikasinya yang masih lumayan. Di pulau jawa saja insektisida ini digunakan tiap tahun mencapai ribuan ton (menurut rekan saya salah satu penjual pestisida). 

"Kurangi Penggunaan Insektisida Karbofuran Atau Tanahmu Akan Hancur?". Karbofuran merupakan bahan aktif insektisida yang mempunyai spektrum sangat luas. Jika diaplikasikan ke dalam tanah bukan hanya serangga hama saja yang akan mati tetapi semua habitat (binatang) yang ada didalam tanah tersebut akan musnah. termasuk mikroorganisme pengurai, cacing tanah dan belut. Padahal kita ketahui ketiga mahkluk hidup tersebut adalah teman petani. Fakta ini bukan omong kosong belaka tetapi sudah saya amati bertahun-tahun. Kalau anda tidak percaya silakan perhatikan apa yang akan terjadi pada binatang-binatang tersebut beberapa hari setelah aplikasi karbofuran.
Mikro organisme pengurai dan cacing tanah merupakan mahkluk tuhan yang sangat berguna bagi petani dan bisa dibilang sahabat petani. Keduanya sangat berguna untuk proses penyuburan tanah . Bayangkan apa yang akan terjadi jika tanah tanpa mikro organisme pengurai dan cacing? semua bahan organik sampah, seresah dan sisa-sisa tanaman tidak akan bisa hancur dan tidah bisa berubah menjadi pupuk organik. Bukankah tanah akan sangat tandus? Tanah kita kesuburannya akan hancur.
Oleh karena itu kita harus lebih bijaksana dalam memilh pestisida untuk kita aplikasikan pada tanah kita. Alih-alih mengendalikan hama/ penyakit tetapi kita mendapat kerugian dari hal lain yang lebih besar. Carilah pestisida yang lebih ramah lingkungan dan lebih selektif dalam membunuh OPT.

Selasa, 14 Juni 2011

Telur Ayam Arab




Kuning Telur Bukan Sekadar Warna

Konsumen biasanya menyukai warna kuning telur yang gelap. Warna ini diasosiasikan dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan yang berwarna pucat. Kuning telur yang lebih gelap lebih banyak ditemui pada telur ayam kampung dibandingkan telur ayam negeri. Warna kuning telur ini sering pula dihubungkan dengan kualitas kandungan gizi, khasiat, serta rasa yang lebih baik.

WARNA kuning muda sampai keemasan yang dimiliki kuning telur dari berbagai hewan unggas maupun reptil dan ikan, ditimbulkan oleh pigmen-pigmen yang disebut karotenoid. Karotenoid hanya dapat dibuat oleh tanaman dan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang mampu melakukan fotosintesis.

Pigmen kuning sampai merah dari karotenoid memberi warna berbagai sayuran dan buah. Karotenoid terdapat pula dalam bunga-bungaan, hijauan tanaman (rumput dan lucerne), jamur (chanterelles), bulu burung (canaries dan flamingo), alga, ikan (salmon), udang lobster, starfish, dan tentu saja kuning telur.

Terdapat kurang lebih 600 jenis karotenoid di alam, dan beberapa jenis serta struktur yang umum ditunjukkan pada ilustrasi di bawah. Sebagian besar karotenoid merupakan kelompok hydrocarbon, sebagian teroksigenasi, dan sebagian berkonjugasi dengan gula dan molekul-molekul lain.

Istilah karoten menunjukkan senyawa karotenoid hidrocarbon, sedangkan istilah xanthophyll menunjukkan senyawa karotenoid yang teroksigenasi.

Meskipun hewan tidak dapat membuat sendiri karotenoid dalam tubuhnya, karotenoid dapat diperoleh dengan memakan bahan makanan nabati yang banyak mengandung karotenoid. Warna pada kuning telur dihasilkan oleh adanya karotenoid yang terkandung dalam makanan yang dimakan unggas, burung, dan hewan lain yang bertelur. Pigmen karotenoid tersebut sebagian besar terdiri dari lutein dan zeaxanthin yang termasuk dalam istilah xanthophylls.

Pada unggas dan ayam pigmen-pigmen xanthophyll dari makanan (bahan makanan nabati dan bijian seperti jagung) diserap dan disimpan tanpa perubahan di dalam kuning telur. Semakin banyak kandungan xanthophyll yang dimakan oleh induk ayam semakin gelap warna kuning telurnya.

Namun kandungan pigmen xanthophyll dalam bahan makanan tidaklah tetap, tergantung jenis dan di mana bahan makanan nabati tersebut tumbuh. Kandungan pigmen dapat pula berkurang secara perlahan-lahan karena penyimpanan yang terlalu lama dari bahan makanan tersebut. Oleh karena itu, untuk memperoleh telur ayam dengan mutu kuning telur yang relatif stabil, perlu sumber makanan dengan kandungan pigmen karotenoid yang tetap dari waktu ke waktu atau suplementasi dengan sumber xanthophyll komersial.

Fungsi karotenoid

Penelitian mengenai fungsi karotenoid dalam telur ayam menunjukkan bahwa semakin banyak karotenoid yang dimakan induk ayam semakin banyak pula karotenoid yang disimpan dalam kuning telur.

Ketika telur berkembang menjadi embrio, semakin banyak pula karotenoid yang didistribusikan dalam jaringan-jaringan embrio yang tumbuh. Embrio yang tumbuh memperoleh sebagian besar energinya dari pemecahan (oksidasi) asam-asam lemak dari kuning telur yang kaya akan lemak.

Asam-asam lemak dari kuning telur juga merupakan sumber asam lemak tidak jenuh untuk perkembangan jaringan otak, saraf, dan retina. Asam-asam lemak tidak jenuh sebagai komponen penyusun membran fosfolipid berperan penting dalam perkembangan otak dan retina embrio dengan memberikan sifat biofisik yang sesuai bagi perkembangan dan fungsi sel-sel saraf dan sel-sel fotoreseptor retina embrio.

Banyaknya asam-asam lemak jenuh maupun tidak jenuh yang tersedia sebagai sumber energi (melalui oksidasi) maupun untuk pertumbuhan menyebabkan jaringan-jaringan dalam embrio yang sedang tumbuh sangat rentan terhadap produk normal metabolisme yang reaktif/berbahaya seperti radikal bebas serta oksigen yang sangat reaktif yang dikenal sebagai "singlet oxygen".

Radikal bebas adalah molekul yang tidak memiliki pasangan elektron sehingga untuk mencari pasangannya mencuri dari molekul di sekitarnya dan radikal bebas mudah terbentuk dari senyawa seperti asam lemak tidak jenuh yang mudah melepaskan elektronnya dalam proses oksidasi.

Radikal bebas dalam jumlah berlebih (karena aktivitas pertumbuhan embrio yang sangat cepat) dapat merusak membran sel melalui peroksidasi lemak sehingga merusak fungsi sel, merusak protein melalui kerusakan asam amino yang mengandung sulfur, merusak DNA melalui kerusakan basa maupun gugus gula sehingga terjadi mutasi.

Hasil penelitian Surey (1999) menunjukkan bahwa karotenoid kuning telur berfungsi sebagai antioksidan yang mencegah peroksidasi lipid jaringan. Demikian pula saat anak ayam keluar dari cangkangnya dan mengalami perubahan/stres lingkungan berupa laju metabolisme yang cepat bersamaan dengan penggunaan paru-parunya memerlukan antioksidan untuk menetralisasi terbentuknya radikal bebas.

Selain fungsi antioksidan, fungsi lain karotenoid adalah pada sistem kekebalan anak ayam/unggas. Anak ayam yang baru lahir sistem pertahanan tubuhnya masih bergantung pada antibodi yang diberikan induknya lewat kuning telur (kekebalan pasif).

Karotenoid dalam kuning telur dapat melindungi antibodi induk tersebut dari kerusakan atau pemecahan. Induk ayam yang diberi suplemen antioksidan seperti karotenoid dan vitamin E mengalami peningkatan retensi antibodi dalam kuning telurnya sehingga antibodi ini dapat dipakai apabila anak ayam yang baru berumur sehari diserang penyakit.

Mekanisme alami ini semakin beralasan karena respons sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit yang berkembang pada usia lebih lanjut memobilisasi enzim-enzim pengurai seperti katalase dan lysozyme serta menghasilkan berbagai senyawa beracun seperti peroksida, nitrit oksida, yang dapat merusak jaringan sehat.

Antibodi

Dengan adanya antibodi dari induk respons sistem kekebalan tubuh yang menghasilkan radikal bebas belum perlu dilakukan sehingga mengurangi kerentanan terhadap peroksidasi lipid ataupun kerusakan jaringan.

Selain fungsi-fungsi biologis yang langsung berhubungan dengan telur itu sendiri, karotenoid dalam kuning telur maupun sayur dan buah yang dimakan memiliki fungsi biologis lain yang beragam pula. Sebagian karotenoid khususnya betakaroten adalah prekursor (bahan asal untuk membuat) vitamin A.

Satu molekul betakaroten yang dimakan dapat diubah oleh enzim dalam usus halus menjadi dua molekul vitamin A. Anak-anak yang cukup memakan sumber betakaroten seperti kuning telur dan sayuran disertai asupan protein dan lemak yang cukup akan mampu mengubah betakaroten tersebut menjadi vitamin A aktif yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Saat ini, suplemen vitamin A sering diberikan dalam bentuk betakaroten bukan sebagai vitamin A aktif. Hal itu karena konsumsi betakaroten dalam jumlah banyak sampai saat ini diketahui tidak bersifat toksik, sedangkan konsumsi vitamin A aktif yang berlebihan bersifat toksik.

Fungsi antioksidan karotenoid dalam telur berlaku pula dalam tubuh hewan dan manusia dengan cara menon-aktifkan radikal oksigen, sebagai zat antimutasi dan antikanker, serta dapat melindungi kulit dari kerusakan radiasi dan kerusakan akibat sinar ultraviolet (UV). Lycopene adalah salah satu jenis karotenoid yang dapat menurunkan oksidasi "low density lipoprotein" (LDL).

Oksidasi LDL yang tinggi diketahui berhubungan dengan risiko terjadinya atherosclerosis/penyumbatan pembuluh darah dan serangan jantung sehingga konsumsi lycopene dapat menurunkan risiko tersebut.

Karotenoid dapat membantu sistem kekebalan tubuh dengan cara melindungi reseptor sel-sel fagosit/pemakan (sel-sel darah putih yang mampu menelan kuman) dari kerusakan auto-oksidasi akibat terbentuknya radikal oksigen.

Karotenoid meningkatkan pula proliferasi sel-sel T dan B yang berfungsi sebagai sel-sel tanggap kebal dalam sistem kekebalan seluler, menstimulir fungsi efektor (fungsi membunuh) dari sel-T, meningkatkan kemampuan sel-sel pembunuh tumor seperti macrofag, T dan natural killer cell untuk melawan sel-sel tumor, meningkatkan produksi beberapa jenis cytokine yang berperan dalam respons tanggap kebal tubuh.

sumber:
Gizi.net -

Ayam Arab


Ayam Arab, merupakan keturunan dari Ayam Brakel Kriel-Silver dari Belgia; keberadaannya di Indonesia karena dibawa oleh orang-orang  Indonesia yang datang dari  Saudi Arabia.  Ciri khasnya adalah warna putih mengkilap di sepanjang leher, punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih. 

Dari penampilan tubuhnya, tinggi Ayam Arab dewasa mencapai 35 cm dengan bobot 1,5-2 kg. Kepalanya mempunyai jengger berbentuk tunggal dan bergerigi. Ayam ini berbulu tebal. Ayam Arab betina dewasa tingginya mencapai 25 cm dengan bobot 1,0-1,5 kg. Kepalanya berjengger tipis, bergerigi. Badannya berbulu tebal. Selama usia produktif antara 0,8 - 1,5 tahun, betina arab terus-menerus bertelur, sehingga hampir setiap hari menghasilkan telur.

Masyarakat memelihara Ayam Arab terutama untuk produksi telur, yang mencapai 190-250 butir per tahun dengan berat telur 42,3 gram. Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2% dari total berat telur. Warna kerabang telur sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan coklat. Warna kulit yang kehitaman dengan daging yang lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai pedaging.

Namun potensi genetis ayam Arab akan muncul jika kondisi lingkungannya memungkinkan. Pemeliharaannya bisa dilakukan secara intensif di kandang batery atau  semi intensif, diumbar.  Terutama pakan sangat mempengaruhi produksi telurnya. Beberapa pengalaman pemelihara ayam Arab, bahwa pemberian pakan campuran dedak, jagung dan konsentrat dengan perbandingan 1 : 2 : 3 dapat menghasilkan produksi 70-80% selama 2 tahun. Produktivitas ayam Arab menurun dengan bertambahnya umur ayam.

Ayam Arab termasuk jenis petelur tipe ringan dibawah 1880 gr per ekor.  Konsumsi pakan umumnya maksimal 100 gr/ekor/hari.  Dengan adanya batasan pemberian ransum ini maka sebaiknya penyusunan ransum yang tepat sesuai kebutuhan karena kelebihan ransum dapat menyebabkan ayam menjadi gemuk dan menurunkan produksi telur,    (Wahyu, 1988). 

Ransum yang dikonsumsi oleh unggas harus dapat memenuhi segala kebutuhan unsur-unsur gizi utama dan pra utama bagi unggas, sehingga menghasilkan produksi yang optimal. Produksi yang optimal dikaitkan dengan prinsip ekonomis dan teknis peternakan.  Produksi yang optimal dimana produksi telur dapat memberikan tingkat manfaat semaksimal mungkin kepada peternak. Ransum untuk ayam berproduksi pada komposisi yang baik adalah dengan kandungan protein 17% dan energinya 2850 kkal/kg; akan menghasilkan produksi telur yang baik untuk daerah tropis (Rasyaf, 1995).  Perhitungan kandungan ransum dapat dilakukan secara sederhana dengan membandingkan jumlah komposisi antara pakan sumber protein dan sumber karbohidrat.  Jika ransum yang tersedia hanya dedak dan konsentrat (pabrik) maka komposisi 3 : 1 sudah mendekati kandungan nutrisi (protein dan energi) di atas.

Dalam manajemen pemeliharaan, yang perlu diperhatikan adalah kandungan nutrisi pakan, karena ini akan mempengaruhi produktivitas telur.  Pakan dengan kandungan protein yang rendah (di bawah jumlah kebutuhannya) menyebabkan ayam tidak bertelur.  Penurunan produktivitas bisa mencapai 50%, hal ini sangat merugikan bagi usaha ternak.  Sebagai ayam petelur, ayam Arab cukup sensitif terhadap respon pakan, jika hanya diberi dedak saja, produktivitas telur hanya tercapai sekitar 10-15%.  Jika terus menerus demikian ayam-ayam kemudian tidak dapat menghasilkan telur.  Untuk memulihkan kondisinya membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu, perbaikan pemberian pakan baru akan memberikan dampak produksi, yaitu ayam-ayam akan bertelur kembali.

Produksi telur juga bisa dipengaruhi oleh faktor luar lainnya; seperti ayam petelur lainnya ayam Arab memiliki sifat mudah stress, terhadap suara gaduh atau kehadiran orang asing di dekatnya. Untuk  menjaga agar produktivitasnya tetap tinggi diusahakan agar ayam-ayam terhindar dari hal-hal yang bisa membuat stress. Pada sistem pemeliharaan secara intensif, bisa diantisipasi dengan pemagaran keliling pada kandang. Diupayakan agar tidak sembarang orang bisa memasuki atau mendekat di sekitar kandang, terutama pada saat ayam-ayam sedang berproduksi.

Masa  produktif, mencapai puncak pada umur 2 tahun, umumnya produktivitas ayam mulai menurun setelah itu.  Produksi akan terus menurun dengan bertambahnya umur ayam. Disarankan untuk selalu mempersiapkan betina pengganti (replacement), agar ayam betina dengan produksi yang mulai menurun dapat diafkir untuk digantikan dengan ayam muda.


Rabu, 23 Maret 2011

RAMUAN PESTISIDA NABATI



1) Untuk Mengendalikan Hama secara Umum Bahan:
- Daun Mimba : 8 kg
- Lengkuas : 6 kg
- Serai : 6 kg
- Diterjen/Sabun Colek : 20 kg
- Air : 80 liter

Cara Membuat:
- Daun mimba, lengkuas dan semi ditumbuk halus dicampur dengan diterjen/sabun colek lalu tambahkan 20 liter air diaduk sampai merata. Direndam selama 24 jam kemudian saring dengan kain halus. Larutan akhir encerkan dengan 60 liter air. Larutan tersebut disemprotkan pads tanaman untuk luasan 1 hektar.

2) Untuk Mengendalikan Hama Trips pada Cabai
Bahan

- Daun Sirsak 50 - 100 lembar
- Deterjen/Sabun Colek 15 gr.
- Air 5 liter.

Cara Membuat
- Daun sirsak ditumbuk halus dicampur dengan 5 liter air.
- Direndam selama 24 jam, saying dengan kain halus.
- Setiap liter Iarutan dapat diencerkan dengan 10 - 15 liter air.
- Aplikasi dengan menyemprotkan larutan tersebut pada seluruh bagian tanaman yang ada hamanya.

3) Ramuan untuk Mengendalikan Hama Belalang dan Ulat.
Bahan
- Daun Sirsak 50 lembar
- Daun Tembakau satu genggam
- Deterjen/Sabun Colek 20 gr.
- Air 20 liter.

Cara membuat
- Daun sirsak dan tembakau ditumbuk halus. Tambahkan deterjen/sabun colek aduk
dengan 20 liter air, endapkan 24 jam.
- Disaring dengan kain halus dan diencerkan dengan 50 - 60 liter air, aplikasi dengan cara
disemprotkan.

4) Mengendalikan" Hama Wereng Coklat, Penggerek Batang dan Nematoda.
Bahan:
- Biji Mimba 50 gr.
- Alkohol 10 cc.
- Air 1 liter.

Cara membuat :
- Biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan 10 cc alkohol, encerkan dengan 1 liter air,
endapkan selama 24 jam, wring dan dapat disemprotkan pada tanaman/serangga hama.

5) Ramuan untuk Mengendalikan Hama Tanaman Bawang Merah.
Bahan
- Daun Mimba 1 kg.
- Umbi Gadung Racun 2 buah.
- Deterjen/Sabun Colek sedikit.
- Air 20 liter.

Cara membuat
- Daun mimba dan umbi gadung ditumbuk halus, ditambah deterjen/sabun colek aduk
dengan 20 liter air, endapkan 24 jam, saring dan dapat disemprotkan pads tanaman.
Bahan
- Limbah daun tembakau 200 kg.
Cara membuat
- Dihancurkan/ditumbuk dihaluskan, cara aplikasi tumbuhan dan tembakau ditaburkan
bersama pemupukan untuk 1 hektar. Limbah dan tembakau itu baik untuk
mengendalikan penyakit karena jamur, bakteri dan mematoda.

6) Ramuan untuk Mengendalikan Tikus.
Bahan
- Umbi Gadung Racun 1 kg.
- Dedak padi. 10 kg.
- Tepung ikan 1 ons.
- Kemiri sedikit.
- Air sedikit.

Cara membuat:
- Umbi dikupas, dihaluskan, semua bahan dicampurkan tambah air dibuat pelet. Sebarkan
pelet dipematang sawah tempat tikus bersarang.


Dikutip dari Tulisan
Ir. Koswara Wijaya